Friday, 26 July 2013

Survei Pemilukada Kabupaten Cirebon

Seperti biasa setiap menjelang diselenggarakannya sebuah Pemilukada, hampir selalu ada survei elektabilitas dan popularitas para calon kepala daerah tersebut beberapa bulan sebelumnya. Begitu pula dengan pemilihan Kepala daerah di Kabupaten Cirebon.
Pada tanggal 25-30 Mei 2013 yang lalu sebuah lembaga survei nasional bernama Komite Pemilih Indonesia (KPì) melakukan survei elektabilitas para calon Bupati Cirebon dengan metode face to face interview dengan jumlah sampel 600 responden, mewakili tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin error 4 persen.
Penentuan sampel dilakukan melalui multi stage random sampling, dimana sampel responden tersebar secara proporsional di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Cirebon dan didistribusikan ke 110 Desa/Kelurahan terpilih ditentukan secara random responden di KK terpilih ditentukan melalui KisGrid.

Risil hasil survei KPI itu memunculkan nama H. Tarmadi yang memiliki tingkat elektabilitas atau keterpilihan tertinggi dibandingkan dengan calon-calon lainnya.
Ada 63 persen pemilih yang sudah menetapkan pilihan dan terdistribusikan secara signifikan ke beberapa kandidat.
H. Tarmadi memperoleh rating tertinggi dengan 16,2 persen, kemudian ditempat kedua yaitu H. Qomar dengan 9,2 persen,. Berikutnya diposisi ketiga ada H. Ason Sukasa dengan 8,5 persen, kemudian di urutan keempat yaitu Sunjaya dengan 7,3 persen, kemudian di tempat kelima ada Hj. Sri Heviana dengan 6,3 persen, selanjutnya di posisi keenam ada Zakaria Machmud dengan 5,7 persen dan terakhir adalah Luthfi dengan 4,2 persen serta sisanya terdistribusi secara merata ke beberapa kandidat yang muncul di publik.

Sedangkan dari sudut popularitas kandidat ada 92 persen pemilih yang sudah mengenal para calon bupati yang bermunculan di publik, dari aspek popularitas ini justru nama H. Qomar berada di posisi teratas dengan perolehan 62 persen, disusul di tempat kedua H. Ason Sukasa dengan 43,7 persen, kemudian di tempat ketiga H. Tarmadi dengan 41,2 persen, lalu Sunjaya di posisi keempat dengan 26,8 persen dan sisanya terdìstribusi secara merata pada calon-calon lainnya.

Meningkatnya popularitas diimbangi peningkatan elektabilitas yang proporsional membuat potensi meningkat secara beriringan menjadi lebih besar, sebaliknya jika tingkat popularitas calon tinggi dengan hasil elektabilitas yang rendah, maka potensi untuk meningkatkan keterpilihan calon diprediksi akan semakin sulit.

No comments:

Post a Comment