Tuesday, 22 July 2014

Rivalitas Jakmania Vs Viking

Di Indonesia telah banyak terbentuk berbagai organisasi atau kelompok suporter sepakbola, seperti Viking (Persib), Jakmania (Persija). Bonek (Persebaya), Aremania (Arema) Pusamania (Putra Samarinda), Balistik (Persiba), Singamania (Sriwijaya FC) dan masih banyak lagi kelompok suporter di klub-klub lainnya. Namun kali ini kita akan membahas perseteruan antara pendukung Persija Jakmania Vs Viking yang merupakan suporter tim Persib Bandung.

Aroma panas selalu mewarnai pertandingan antara dua tim besar Indonesia yakni Persib Bandung vs Persija Jakarta, selain perseteruan di lapangan hijau, perseteruan di luar lapangan antara suporter kedua tim juga tak kalah serunya. Yups! Viking sang pendukung fanatik tim Maung Bandung Persib dan Jakmania yang merupakan pendukung berat Macan Kemayoran Persija memang terlibat dalam perseteruan emosional, hingga kedua suporter ini selalu melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan anarkis jika Persib dan Persija bertemu, seperti pelemparan-pelemparan dan intimidasi kepada para pemain, baik kepada para pemain Persib ketika bermain di Jakarta atau pun kepada pemain Persija ketika bermain di Bandung Tindakan-tindakan tidak terpuji dari kedua suporter seperti itu tentu saja bukan bentuk kecintaan kepada kedua tim yang mereka dukung karena hal itu justru merugikan tim, selain kemungkinan terkena sanksi, kemungkinan pemain terluka dari kedua tim juga sangat terbuka.Sayang memang jika hal ini terus terjadi padahal dukungan dalam bentuk yang positif dan sportif berupa nyanyian dan yel-yel pemberi motivasi pada para pemain sudah cukup baik. Sungguh menyenangkan jika pertandingan Persib vs Persija yang selalu menarik danbdipenuhi puluhan ribu penonton itu tidak diwarnai oleh tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti pelemparan dan intimidasi kepada pemain. Kita perlu belajar dari suporter Liverpool dan Everton yang berseteru dengan hebat hingga sempat menimbulkan korban, kini mereka sadar dan mendukung timnya dengan lebih sportif dan damai, bahkan mereka dapat nonton dalam satu stadion tanpa terjadi bentrokan.

Walaupun sulit. Karena kefanatik butaan kedua suporter, kedepan PSSI harus punya solusi yang baik untuk memyelesaikan sengketa kedua suporter, karena rivalitas mereka sudah tidak sehat. Anarkis dan memgancam keselamatan jiwa pemain dan suporter itu sendiri. Ayo sadarlah buatlah sepakbila Indonesia menjadi indah dan nyaman seperti di Eropa. Sepakbola memang seru jika ada rivalitas, tapi rivalitas dalam sportifitas.

Wednesday, 16 July 2014

Rivalitas TV One Vs Metro Berlanjut Di Pilpres

Persaingan dua Televisi nasional yang bertema yakni TV One dan Metro TV dari waktu ke waktu semakin sengit saja, rivalitas kedua TV berbasis berita ini tidak hanya dari konten acara televisi saja, tapi juga merambah ke dunia politik, karena kedua TV ini dimiliki oleh orang yang notabene adalah politikus. TV One dimiliki oleh Aburizal Bakrie yang merupakan ketua umum Partai Golkar dan Metro TV dimiliki oleh Surya Paloh yang merupakan ketua umum Partai Nasdem.
Pertarungan seru pertama kedua TV ini dalam membela agenda politik pemiliknya pernah terjadi saat perebutan ketua umum Partai Golkar, saat itu Aburizal Bakrie dan Surya Paloh maju menjadi calon ketua umum partai Golkar bersama beberapa calon lainnya, dan perebutan ketua umum Partai Golkar itu dimenangkan oleh Aburizal Bakrie, tentunya Surya Palohpun gagal menjadi orang nomor satu di Partai beringin tersebut setelah Jumlah suaranya berada di urutan kedua di bawah Aburizal Bakrie. Dalam pertarungan pertama ini TV One yang giat mempromosikan Aburizal Bakrie bisa dibilang unggul atas Metro TV yang mempromosikan Surya Paloh.

Pada tahun 2014 ini, pertarungan kedua TV ini semakin menajam, karena ajang pertarungannya berlevel tinggi, yaitu Pemilihan Presiden RI yang ke 7, yang memunculkan dua nama calon presiden yang Tengah populer yaitu Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Hatta Rajasa dan Joko Widodo yang berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai cawapresnya. TV One berada di pihak Prabowo-Hatta karena sang Pemilik yang juga ketua umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mendukung Capres nomor satu tersebut, sedangkan Metro TV berada di pihak Jokowi-JK karena sang pemilik Surya Paloh yang juga ketua umun Partai NasDem mendukung pasangan Capres nomor urut dua.
Saling serang antar kedua TV berita tersebut dalam menyudutkan Capres lawanpun tak terhindarkan, rakyatpun bingung dan terbelah, masyarakat yang mendukung Prabowo membenci Metro TV yang pemberitaanya tidak seimbang dan cenderung provokatif, demikian pula dengan masyarakat yang mendukung Jokowi jadi membenci TV One karena alasan yang sama. Bahkan saat pilpres dilangsungkan pada tanggal 9 Juli 2014 yang lalu, kedua TV ini menayangkan hasil quick count dari lembaga survei yang merilis hasil yang berbeda. TV One menayangkan hasil quick count yang memenangkan Prabowo-Hatta dan Metro TV menayangkan hasil quick count yang memenangkan Jokowi-JK. Saling klaim kemenanganpun terjadi yang didahului oleh kubu Jokowi pada siang menjelang sore hari yang ditayangkan langsung oleh Metro TV dan di balas oleh klaim Prabowo pada malam harinya yang ditayangkan langsung oleh TV One.
Nah siapakah yang akan unggul antara TV One dan Metro TV kali ini? Jawabannya akan kita lihat pada tanggal 22 Juli nanti saat pengumuman resmi oleh KPU tentang siapa yang akan menang dalam perebutan kursi presiden ini.
Namun keberpihakan kedua media TV tersebut plus media-media lainnya terhadap kedua capres tentu akan menjadi preseden buruk bagi masyarakat Indonesia yang butuh pemberitaan yang seimbang, keberpihakan media berpotensi besar memecah belah bangsa, saat inipun suasananya mulai terasa, ketika masyarakat mulai saling benci dengan orang yang berbeda dalam mendukung jagoannya. Sementara masyarakat yang lebih bijak tentu akan lebih jeli dalam menyikapi persoalan ini, dengan tidak mudah percaya pada berita yang datang dari media kedua kubu, tapi lebih memilih mengkaji dan menganalisanya terlebih dahulu, karena berita yang sifatnya memihak sangat kecil objektivitasnya dan belum tentu kebenarannya. Bagi mereka yang memihak, berita dari yang didukungnya lah yang dianggap benar! Itulah yang mesti diteliti oleh masyarakat pada umumnya agar tidak mudah tergiring oleh opini yang dibuat oleh media yang tak lagi seimbang dalam menyampaikan pemberitaanya. Media-media yang memihak bukan lagi sarana penyampai kabar, tapi telah menjadi alat propaganda kelompok atau kubu tertentu.