Survei Pilkada Sulsel 2018 Versi FSI

Baru-baru ini salah satu lembaga survei yakni Fokus Survei Indonesia (FSI) telah merilis tentang elektabilitas bakal calon gubernur yang namanya masuk dalam bursa pencalonan, menurut survei yang dilakukan sejak 27 September sampai dengan 7 Oktober 2017 itu, hasilnya menunjuk nama Rivai Ras sebagai tokoh yang paling banyak dipilih oleh 22,4 persen dari 1667 responden. Menyusul di bawahnya adalah Nurdin Abddullah sebesar 16,1 persen, Agus Arifin Nu'Mang 11,3 persen, Akbar Faisal 9,3 persen, Ichsan Yasin Limpo 7,2 persen, Nurdin Halid 6,2 persen, Azis Kahar Muzakar 5,1 persen, dan yang belum memilih 22,4 Persen. 

Tingginya pilihan masyarakat terhadap Rivai Ras yang merupakan tokoh baru dalam politik Sulsel dikarenakan mereka sudah tidak percaya dengan tokoh-tokoh politik lama. Penelitian dan survei tokoh Sulsel yang akan maju pilkada ini juga merupakan bagian dari mengungkap fakta, dimana akhir-akhir ini marak pemberitaan di media massa dan media sosial serta baliho dan gambar-gambar beberapa tokoh di Sulawesi Selatan yang mempromosikan diri untuk maju sebagai Calon Gubernur pada tahun depan untuk menggantikan kepemimpinan dua periode Syahrul Yasin Limpo. Survei ini juga untuk mengungkap fenomena dan untuk mengukur tingkat elektabilitas para tokoh yang akan maju sebagai Calon Gubernur Sulsel. Pemberitaan media massa, medsos dan gambar-gambar di baliho merupakan sebuah stimulus bagi masyarakat Sulsel untuk merespon dan memberikan sikap dan pendapat pada tokoh-tokoh yang gambar dan pemberitaannya di media massa, medsos maupun baliho.  

Hasil survei juga menunjukan bahwa sebanyak warga Sulsel 47,3% acuh tak acuh terhadap Pilgub 2018. Sedangkan 14,3% sangat antusias, dan sisanya 38,4 persen biasa biasa saja. Sebanyak 44,5 persen responden menilai politik uang sebagai hal yang wajar. Kemudian, sebanyak 51,9 persen mengaku tidak bisa menerima politik uang, dan 3,6 persen tidak menjawab politik uang tersebut berupa sembako dan uang yang diberikan oleh para calon gubernur nantinya. Dari 44,5 persen responden yang mengaku bisa menerima politik uang, ketika ditanyakan kepada mereka apakah akan menerima uang atau barang yang diberikan. Hasilnya, sebanyak 65,7 persen mengaku akan menerima, tetapi memilih calon berdasarkan hati nuraninya. Dari temuan survei juga didapati, Agus Arifin Nu'Mang jadi tokoh yang paling dikenal oleh 78,2 persen responden (populer karena jabatan Wagub selama dua periode ), kemudian, Nurdin Halid dipilih oleh 78,1 persen responden (populer karena pernah terlibat kasus hukum dan mantan Ketua PSSI). Azis Kahar Muzakkar dipilih oleh 74,2 persen responden (dipilih karena pernah ikut Pilgub tahun 2012 dan Anggota DPD), Rivai Ras dipilih oleh 69,3 persen responden (populer karena banyak tulisan-tulisannya dan karirnya di TNI), Ichsan Yasin Limpo dipilih oleh 69,3 persen responden (dipilih karena adik Gubernur dan jabatan Bupati Gowa), Nurdin Abdullah dipilih oleh 68,8 persen responden (dikenal karena sebagai dosen dan menjabat sebagai Bupati Bantaeng, dan terakhir Akbar Faisal dipilih oleh 68,7 persen responden (populer karena menjabat Anggota DPR RI ). Sementara untuk tingkat akseptabilitas Rivai Ras 71,2 persen, Agus Arifin Nu'Mang sebanyak 68,2 persen, Nurdin Abddulah 67,2 persen, Ichsan Yasin Limpo 66,2 persen, Akbar Faisal 65,6 persen, Nurdin Halid 64,3 persen, dan Azis Kahar Muzakar 63,2 persen. Sebagai informasi, dalam jajak pendapat publik Sulsel ini, FSI melibatkan 1.667 warga yang memiliki KTP Sulsel dan memiliki hak pilih pada saat Pilgub digelar nanti. Penentuan 1.667 warga Sulsel sebagai sampling berdasarkan total pemilih pada Pilgub Sulsel sebanyak ± 6,8 juta pemilih dengan metode "Multistage Random Sampling". "Sample sendiri ditentukan secara proporsional dan menggunakan nilai tingkat kepercayaan Survei sebesar 95% dan Margin of Error sebesar 2,4 persen. 

Survei Elektabilitas Capres 2019

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih dua tahun lagi, namun gaung nama-nama calon presiden sudah mulai mengemuka, beberapa lembaga surveipun mulai merilis elektabilitas nama-nama tokoh yang berpotensi kuat menjadi calon presiden. Belum lama ini dalam waktu yang  berdekatan tiga lembaga survei yaitu Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Media Survei Nasional (Median) dan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) merilis hasil survei mereka terkait dengan elektabilitas calon presiden menjelang pemilu 2019. Hal yang menarik dari hasil survei ketiga lembaga survei ini adalah mencermati elektabilitas Presiden Jokowi dan Prabowo. Hasil survei SMRC menyatakan elektabilitas Jokowi 38,9%. Media Survei Nasional merilis Elektabilitas Jokowi hanya 36,2 % sedangkan berdasarkan hasil survey Kedai Kopi elektabilitas Jokowi hanya 44,9%. Sebagai petahana elektabilitas dibawah 50% tidak aman bagi Jokowi. Sementara itu elektabilitas Prabowo yang merupakan saingan Jokowi di Pilpres 2014 yang juga disebut-sebut sebagai penantang kuat Jokowi di Pilpres 2019 juga tidak menggembirakan bahkan jauh di bawah Jokowi. Hasil survei SMRC elektabilitas Prabowo 12,0% sedangkan hasil survei Median angka Prabowo lebih baik 23,2 % namun tetap tertinggal jauh dari Jokowi. Jika dilihat dari hasil survei ketiga lembaga tersebut tentu saja hal ini menjadi peringatan dini bagi Jokowi karena untuk petahana elektabilitas dibawah 50% itu berada pada batas yang tidak aman jika nanti ingin kembali maju dalam kontestasi politik. 

Sedangkan bagi Prabowo sendiri hasil survei ketiga lembaga tersebut menunjukan bahwa Prabowo belum berhasil menjaga elektabilitasnya sehingga keinginan Prabowo untuk bisa kembali head to head dengan Jokowi seperti pilpres 2014 tidak terwujud. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo yang masih kurang menggembirakan ini merupakan indikasi ada keinginan dari masyarakat terhadap munculnya calon alternatif. Salah satu kandidat yang memiliki potensi untuk itu adalah Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Memang hasil survei Gatot masih kecil itu karena Gatot masih menjabat sebagai Panglima TNI yang tidak dibolehkan berpolitik praktis sehingga Gatot belum melakukan kerja politik untuk mendongkrak elektabilitasnya. Selain Gatot, ada juga beberapa tokoh yang sudah memiliki modal popularitas dan pengalaman masuk dalam bursa bakal calon Presiden. Nama-nama tokoh yang cukup layak untuk mulai dimunculkan selain Panglima TNI Gatot Nurmantyo adalah Gubernur Jawa Barat, Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang.